Paus Fransiskus: Yerusalem Simbol Perdamaian Islam, Kristen, dan Yahudi

Paus Fransiskus: Yerusalem Simbol Perdamaian Islam, Kristen, dan Yahudi

Paus Fransiskus mengatakan pada Sabtu, 30 Maret 2019 bahwa Yerusalem harus menjadi simbol hidup berdampingan dengan damai, bagi penganut tiga agama samawi (Ibrahimiah), terutama Kristen, Yahudi, dan Islam.

Pernyataan tersebut diberikan dalam deklarasi bersama Raja Maroko Mohammed VI, dalam kunjungan pertamanya ke negara di Afrika Utara tersebut. Kedua pemimpin menyebut Yerusalem sebagai warisan umum kemanusiaan untuk banyak keyakinan, khususnya bagi umat ketiga agama monoteistik.

"Karakter multi-agama yang sangat khusus, dimensi spiritual dan identitas budaya Yerusalem ... harus dilindungi dan dipromosikan," bunyi deklarasi yang dimaksud, sebagaimana dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (31/3/2019).

Pernyatan tersebut tentu sangat kontras dengan pengakuan sepihak Donald Trump beberapa waktu lalu bahwa Yerusalem merupakan Ibu Kota Israel. Sebuah pernyataan yang memicu kemarahan negara-negara Islam, mengingat Palestina menganggapnya sebagai bagian dari teritori di masa depan.

Bukanlah tanpa alasan deklarasi tersebut diberikan oleh pemimpin Maroko dan Paus Fransiskus.

Raja Mohammed VI merupakan ketua sebuah komite Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang bertugas melindungi dan memulihkan warisan agama, budaya dan arsitektur Yerusalem. Sedangkan Paus Fransiskus adalah kepala spiritual bagi 1,3 miliar umat Katolik dunia yang memiliki prioritas untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara lain.

Dalam kesempatan yang sama, Paus juga menyerukan perlawanan terhadap ekstremisme di depan ribuan warga Maroko yang hadir. Mereka bukan hanya umat Katolik di Maroko, namun juga puluhan ribu warga umum yang melihat pidato Paus melalui layar lebar yang disediakan pemerintah.

Raja Mohammed VI juga menyatakan hal yang senada. Dalam sebuah upacara di menara Masjid Hassan, pemimpin Maroko itu menolak agama sebagai justifikasi serangan teror.

"Yang dimiliki oleh teroris bukanlah agama, (tapi) itu justru karena ketidaktahuan terhadap agama. Sudah saatnya agama tidak lagi menjadi alasan ... untuk intoleransi," katanya.